Senin, 23 November 2009

Pergi Haji dan Umroh Bukan Mimpi

Pergi haji dan umroh bukan mimpi ( bag 1 ).

Bersama Ustad Yusuf Mansyur

Pergi Haji dan Umrah itu bukan mimpi. Dan ke tanah suci, asli bukan urusan duit dan bukan hanya haknya mereka yang kaya. Sepenuhnya sebab Kehendak dan Ridha Allah SWT. Di dalam 120-an orang di rombongan Al Amin Mulia Lestari (Wisatahati), begitu banyak orang-orang yang hitungan ekonomi lemah, namun bersama-sama dengan gagahnya memakain kain ihram, mengucapkan talbiyah, dan tawaf bersama mereka-mereka yang bayar! Ada di antaranya Mbah Kemi, yang bahkan tidurnya bersama kambing piaraannya, saking miskinnya. Beliau bisa berangkat umrah, sebab banyak keutamaannya yang luar biasa. Saya pernah mengatakan bahwa untuk bisa bersedekah, mbok ya puasa Daud (sehari puasa sehari tidak), supaya bisa hemat. Lah, Mbah Kemi ini malahannya memilih makan makanan basi (ga lazim memang), supaya jatah makannya bisa ia sedekahkan. Dan saudara mungkin kaget bila mengetahui umurnya Mbah Kemi ini di atas 100 tahun! Gagahnya, jangan tanya. Beliau masih sanggup jalan kaki 15 kilo, dengan membawa beban 30kg! Sesuatu yang bahkan Yusuf Mansur ga bisa lakukan. Dikasih uang, dibelikan kambing untuk dibesarkan. Setelah besar, dijadikan kurban di kampungnya di saat idul adha. Dikasih 800rb oleh satu lembaga amil zakat, malahan dibelikan karpet buat mushalla kampung dan dipanggul sendiri lagi karpetnya... Masih banyak kisah lainnya. Nantikan di DhuhaaCoffee edisi pekan depan dst.
Ust. Yusuf Mansyur


Pergi Haji dan Umroh, Bukan Mimpi (Bag.2)

Muhammad memandangi Vespanya. Mana mungkin ia berani bermimpi bisa pergi haji dan umrah. Jangankan pergi haji dan umrah beneran, bermimpi saja saat itu ga berani. Hingga kemudian ia percaya bahwa hidup manusia itu bisa berubah. Pasang saja mimpi dulu, dan kejar dengan amal nyata dan ibadah. Selebihnya sempurnakan dengan doa dan sedekah.

Muhammad kemudian bergerak pasti. Ia kayuh hidupnya dengan membekali dirinya dengan amalan-amalan sunnah; dhuha, bangun malam, dan sedekah. Persis seperti yang dikumandangkan Wisatahati dan Daarul Qur'an. Di balik sunnah, ada kejayaan.

Muhammad, yang punya nama asli separuh nama perempuan ini; Muhammad Munawwaroh, menjadi salah satu peserta umrah edisi Juni 2009. Tapi Muhammad yang sekarang, Muhamamd yang sudah berbeda. Dari gaji 2 juta, kini gajinya sudah 60 juta rupiah, plus pendapatan istri, nyaris bisa menyentuh 100 juta rupiah sebulan. Buat dia, bukan lagi mudah sekarang ini untuk ke tanah suci, tapi juga mudah memberangkatkan orang ke Mekkah dan Madinah! Vespanya sudah di-say-good-bye-kan. Mobil dinas Camry terbaru sudah jadi tunggangannya. Jabatan Direktur Marketing Indo Farma pun disandangnya. Dengan 400 anak buahnya, beliau bahu membahu mengelola omzet 1,4 trilyun setiap tahunnya! Sungguh suatu prestasi yang luar biasa, yang bisa dicapai olehnya dalam hitungan tidak sampe 1 dasawarsa.

Terngiang kisahnya di Masjid Nabawi... Semua dicapai karena Karunia Allah. Banyak jalan bisa ditempuh semua manusia, dan relatif jalan-jalan itu tidak memerlukan biaya. Ia hanya memerlukan kemauan dan niat yang besar. Yaitu Jalan Allah. Muhammad Munawwaroh bercerita, bahwa ia pertama kali belajar dari ayahnya. Seorang tentara biasa dengan 10 orang anak. Satu ketika, ia butuh uang. Ayahnya bertanya, bener butuh uang? Kalo bener, ayo ntar malam ikut ayah ke masjid! Muhammad Munawwaroh bertanya, loh koq ke masjid? Ternyata ayahnya mengajaknya sujud di keheningan malam dan memintanya memperdengarkan keinginannya kepada Yang Maha Kaya.

Tradisi ini ia teruskan. Tulisan ini tidak sanggup melukiskan kebahagiaan beliau bisa hidup di dalam ajaran-ajaran Sunnah, istiqamah, dan kemudian mengajarkannya kepada yang lain.

Muhammad Munawwaroh mengatakan, yang mahal adalah bukan ketika bisa memberangkatkan umrah. Tapi yang mahal adalah ketika kita bisa memberikan pengajaran dan motivasi kepada seseorang untuk mengikuti jejaknya, hingga kemudian bukan saja ia bisa berangkat umrah sendiri, namun juga bisa memberangkatkan umrah orang lain!

Di lain tempat di Madinah al Munawwaroh, nama yang barangkali jadi inspirasi sang ayah menamakannya, beliau cerita, bahwa shalat malam, dhuha dan sedekah, sudah menyelamatkannya dari kecelakaan fatal di jalan raya. Mobil hancur berguling-guling, namun seluruh isi keluarga, termasuk bayi mereka, selamat tanpa satu kurang apapun. Mereka sadar, malamnya mereka tahajjud, paginya mereka dhuha dan bersedekah sebelomnya jalan. Allah menyelamatkan mereka.

Banyak lagi ragam kisahnya Muhammad Munawwaroh, namun mudah-mudahan secuplik kisahnya, bisa dijadikan lecutan buat kita semua untuk mampu shalat malam, dhuha, dan sedekah... Sambil terus memperbaiki shalat-shalat fardhu kita. Tentu saja.

Tugas Buat Penikmat Dhuha Cofee :
(silahkan kirimkan tugas anda via email ke dhuhacoffee@yahoo.com)
1. Sudah pernah ke Tanah Suci? Umrah atau Haji?, kalau sudah pernah, apa pengalaman sebelom, pas di haji/umrah, dan pasca umrah? yang paling berkesan.
2. Jika belom, kapan terakhir berdoa u/ bisa ke Tanah Suci? Dan upaya apa yang sudah dilakukan?
3. Apa sudah menjajal sedekah untuk bisa ke Tanah Suci?
4. Cari pengalaman sekitar yang bisa berangkat ke Tanah Suci dengan modal doa, shalat malam, dhuha, sedekah, dan mahabbah sama orang tua. Pilih salah satu saja, dan ceritakan.
5. Impian berhaji dan umrah adalah impian setiap muslim yang memang waras. Artinya, bila ditanya pengen ga ke Tanah Suci, lalu jawabnya engga pengen, dipastikan dia ga waras. Nah, sudikah kiranya saudara-saudara mendoakan yang kepengen berangkat ke Tanah Suci? Sebagai sedekah doa untuk saudaranya yang lain?



Pergi Haji dan Umroh, Bukan Mimpi (Bag.3)

"Do'a, Keyakinan & Perjalanan Do'a"

Kalau kita mau berdoa sepenuh keyakinan,
dan yakin seyakin-yakinnya,
juga berulang-ulang bahkan terus menerus,
insya Allah, Allah yang akan mewujudkan doa kita.
Saya kembali lagi ke Mekkah!
Udah Bukan Mimpi Lagi
Tidak ada yang pantas untuk disebut dan dipuji di balik semua ragam nikmat, kecuali DIA, Allah ‘azza wa jalla. Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin, puji syukur buat Allah. Saya kembali lagi ke Mekkah, ke Tanah Suci.
Juli 2009 ini kembali saya ada di Mekkah dan Madinah.
Fabi-ayyi aa-laa-i robbikumaa tukadzdzibaan, nikmat mana lagi yang kalian dustakan? Demikian Allah juga menyindir saya. Kalau bukan menjadi orang yang bersyukur, ya apalagi pilihannya? Pilihannya adalah kufur nikmat. Na’uudzu billaahi min dzaalik.
Subhaanallah, rasanya baru kemaren saya kembali dari Tanah Suci, kini sudah di Tanah Suci lagi. Alhamdulillah. Ya, saya baru pertengahan Juni yang lalu ke Tanah Suci. Kini, di awal Juli, sudah di sini lagi aja.
Ketika saya menulis ini, saya hentikan sejenak untuk membaca al Faatihah. Kiranya demikian jugalah Saudara semua. Hentikanlah dulu membaca tulisan ini, dan bacalah dulu al Faatihah...
al Faatihah...
Sehabis baca Surah al Faatihah, aminkan doa saya:
Ya Allah, Engkaulah Pemilik Pintu dua kota suci; Makkah dan Madinah. Bukakanlah pintu Makkah dan Madinah untuk saudara-saudara saya yang belom berangkat. Sedang yang sudah berangkat, berangkatkan lagi semuanya ke Mekkah dan Madinah untuk menyempurnakan ibadah haji dan umrah yang terdahulu. Ya Allah, Engkau juga Yang Maha Memiliki Rizki, Mengaturnya, Membaginya, Meluaskannya, atau Menyempitkannya. Izinkan hamba-Mu ini berdoa di Mekkah ini, agar Engkau bukan saja mengarunia rizki untuk saudara-saudara saya berangkat haji dan umrah, melainkan juga ada rizki untuk memberangkatkan kanan dan kiri kami untuk juga bisa sujud dan ruku’ di Masjidil Haram dan di Masjid Nabawi.
Ya Allah, kami percaya, pergi haji dan umrah, sungguh bukan perkara uang. Tapi murni urusan Kehendak-Mu, Ridha-Mu dan Izin-Mu. Kami kepengen bukan sekedar berangkat. Melainkan berangkat yang Engkau ridhai. Kami ingin bukan sekedar bisa ke Mekkah dan Madinah, melainkan bisa bener-bener beribadah yang diterima.
Berikan berkah-Mu buat sesiapa yang memasuki dua kota suci-Mu ini ya Allah, dan jadikan kami beserta anak keturunan kami, keluarga kami, istri (atau suami) kami, sahabat-sahabat kami, semua termasuk yang diberkahi oleh-Mu.
Terima kasih ya. Semoga aminnya doa saudara semua didengar oleh Yang Maha Mendengar. Sungguh, Allah Yang Maha Tahu, mudah-mudahan mengetahui bahwa doa yang saya tulis ini sungguh-sungguh saya panjatkan dengan keyakinan sesiapa yang mengamini akan betul-betul terjawab segala doanya. Tinggallah saudara sendiri yang meyakini aminnya diri saudara sendiri.
***
Saudara percaya kekuatan doa? Mudah-mudahan kisah saya di waktu kecil ini semakin membuat kita semua percaya kekuatan doa. Amin.
Teringat peristiwa dua puluhan tahun yang lalu ketika saya masih kecil.
Saudaraku semua, saya sampe kelas 6 Ibtidaiyah (setara SD) masih dimandikan ibu saya, Hajjah Humrif’ah binti KHM Mansur Jembatan Lima. Bahkan ini rahasia ya (he he he, rahasia koq ya dibuka), saya sampe kelas 3 Tsanawiyah (setara SMP) masih ngompol, he he he. Kerjaannya saban pagi jemur kasur! Ha ha ha.
Nah, dulu tuh kalo mandi sore, ibu saya mendirikan saya di bale kayunya bekas almarhum Kyai Haji Muhammad Mansur (Guru Mansur) Jembatan Lima. Saya mandi di dekat bale ini. Bale yang sangat tua yang sampe sekarang masih ada. Di kamar mandi dekat bale ini, sebenernya bale bersejarah. Di sanalah kata nenek saya, Bung Karno sempet mandi sebelum berangkat menikah dengan Bu Fat. Konon kata nenek saya (dan ini saya ga bisa membuktikan, he he he), bapaknya nenek saya, ya Guru Mansur tersebut, dijemput Bung Karno untuk menikahkan beliau. Wallaahu a’lam. Tapi saya dulu senang dengan cerita ini.
Sambil berdiri di bale tersebut, ibu saya mengeringkan badan saya dari air bekas mandi. Sambil mengeringkan badan saya, ibu senantiasa dan berulang-ulang berdoa begini: “Ibu doain mudah-mudahan Kamu bisa bolak balik ke Mekkah seperti ke pasar. Bisa keluar negeri semudah pergi keluar rumah...”
Dan doa ini hampir senantiasa berulang-ulang. Hampir tiap mandi sore.
Yusuf Mansur kecil dulu pernah sedikit protes, “Koq doanya begitu melulu...?”.
Ibu saya menjawab enteng, “Emangnya ga mau didoain supaya gampang ke Mekkah dan bolak balik?”
“Tapi kan ke Mekkah itu susah. Kudu jadi orang besar, kudu punya uang banyak. Kayak Ayah Mamad...”, begitu saya katakan kepada ibu saya.
“Eeeehhh... Kalo Allah udah punya kemau, ga ada yang susah...”.
Kalimat ini kan kalimat Kun Fayakuun. “Innamaa amruhuu idzaa araada syai-an ay yaquula lahuu kun fayakuun, Sesungguhnya urusan-Nya jika menghendaki sesuatu cukup bagi-Nya mengatakan jadi, maka jadilah. Fasubhaanal ladzii biyadihii malakuutu kulli syai-in wa-ilaihi turja’uun, Maha Suci Allah yang di Tangan-Nya segala kekuasaan berada, dan kepada-Nya lah kalian semua dikembalikan”. (Qs. Yaasiin: 82-82).
***
Saudaraku yang mengimani Kekuasaan Allah. Saat saya menulis ini mendadak saya kangen sama ibu saya yang beloman saya berkhidmat kepadanya sepenuh hati. Kesibukan dakwah sudah menjauhkan saya dari ibu saya. Alhamdulillah, saya punya adik-adik yang 24 jam menjaga ibu saya. Semoga Allah kumpulkan kami semua dalam surga-Nya.
Sambil menulis, saya kembali mengingat peristiwa tersebut.
Doa ibu saya menjadi kenyataan. Semuanya bener-bener jadi nyata. Doanya saja sudah luar biasa. Apalagi keluarnya dari mulut ibu saya. Masya Allah.
Asli, kemudian saya menemukan diri saya bener-bener bisa bolak balik Mekkah dan Madinah.
Dan bener-bener bisa disebut “semaunya”. Se-kapan-nya. Alhamdulillah. Saya malah pernah hanya 8 jam saja di Mekkah. Tiba sekitar jam 00 waktu Saudi. Nemuin jamaah sebentar di Jeddah, kemudian masuk Mekkah untuk umrah. Istirahat menjelang shubuh, kemudian shubuh berjamaah di Masjidil Haram. Selepas shubuh, tidur sebentar, kemudian dhuha, tawaf wada’, dan kembali ke Jeddah untuk kemudian bertolak kembali ke Jakarta. Alhamdulillah, sehat saja.
***
Dulu, wajar ibu saya senantiasa berdoa seperti itu. Saya mengerti. Bagi seorang Humrif’ah, ibu saya, saat itu pergi haji bener-bener menjadi barang mimpi. Rada-rada ga mungkin. Obsesi ke tanah suci beliau tumpahkan dalam bentuk doa untuk anak sulungnya ini. Subhaanallaah.
Jangankan untuk orang dulu. Untuk orang sekarang juga, doa itu masih rasanya kurang lazim. Apalagi dulu di mana transportasi begitu sulit.
Dulu di pohonnya keluarga besar Guru Mansur, ahli falak dan kyai tua Betawi pada masanya, ada seorang kyai. Namanya: Almarhum KH. Ahmadi Muhammad. Beliau turunan ketiga dari Guru Mansur. Saya generasi ke-empat. Ga elok bicara turunan. Tapi sekedar melengkapi tulisan. Jika saudara melintas dari Roxy menuju Stasiun Kota, maka ada nama jalan KHM. Mansur di Jembatan Lima. Di rumah beliaulah saya lahir. Saya besar dan tumbuh di lingkungan keluarga besar Al Mansuriyah Jembatan Lima. Rumah betawi kuno yang Masjid tuanya diberi nama Masjid Al Mansuriyah. Dibangun di tahun 1777M. Ada juga madrasahnya.
Nah, saat saya kecil, madrasah dan masjid itu dipimpin oleh almarhum KH. Ahmadi Muhammad atau yang biasa dipanggil ayah Mamad (almarhum). Beliau ini punya KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji). Hampir saban tahun beliau berangkat haji. Membawa ratusan jamaahnya. Tidak kurang 500-an jamaah saban tahunnya.
Dulu, kalo musim haji, sangat menyenangkan sekali buat kami para buyut Guru Mansur. Jamaah tumpah ruah, dengan pengantar yang berjumlah ribuan. Ratusan mobil berbaris di luar masjid. Memenuhi jalanan Kampung Sawah hingga keluar luar jalan raya Jembatan Lima. Bersiap-siap mengantar jamaah haji yang harus berkumpul di Asrama Haji Pondok Gede.
Sehabis azan dikumandangkan, shalawat diperdengarkan, doa dibacakan, isak tangis sahut-sahutan. Betul-betul pemandangan yang mengharukan zaman dulu mah. Kemudian jamaah satu per satu masuk bus yang sudah disiapkan. Sedang keluarga demi keluarga pengantar, masuk ke mobil masing-masing. Di kaca mobil, semuanya, dengan bangga, ditempel kertas: Rombongan Haji al Mansuriyah.
Senang sekali dah.
Kenapa menyenangkan? Sebab sehabis dari mengantar jamaah haji ke Pondok Gede, mestilah kami yang kecil-kecil ini, maen-maen ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) atau ke Ancol.
Dulu, seputaran Pondok Gede, muacet total kalo musim haji. Deretan pedagang oleh-oleh Arab bisa ditemukan dengan gampangnya. Beda dengan kondisi sekarang.
Sebagai ketua KBIH, almarhum Ayah Mamad punya jatah untuk memberangkatkan orang-orang yang dikehendakinya untuk pergi haji. Dulu, ibu saya, dan kakaknya (Hajjah Hurul ‘In) termasuk yang menanti, kapan giliran itu datang. Tapi karena Kehendak pergi haji itu punya Allah, bukan punya Ayah Mamad, maka beliau berdua (ibu saya dan kakaknya) ya santai aja. Berharap, iya. Tapi berharap banyak, engga. Apalagi dengan Ayah Mamad ini beda nenek. Seasal, tapi beda cabang. Sepohon, beda cabang. Tentu saja, beliau akan mengutamakan circlenya dulu.
Ibu saya, meski tinggal di keluarga emas, namun secara finansial tergolong engga mampu. Lantaran Allah hadirkan kakaknya itulah, alhamdulillah, masih bisa makan minum dan hidup normal. Baik sekali keluarga kakaknya ibu ini. Suaminya, KH. Sanusi Hasan, adalah orang yang merawat saya sejak kecil.
Wuah, koq jadi cerita masa kecil ya? Ga apa-apa dah. Jarang-jarang kan ya?
Di DVD MDN seri ke-8 atau ke-7 kalo ga salah, saya beriwayat tentang kehidupan saya ini. Mudah-mudahan saudara-saudara semua sudah memiliki DVD MDN ini.
Ya itulah. Bagi ibu saya dan kakaknya, pergi haji jadi bukan perkara gampang. Berdoa, menjadi seperti meluapkan obsesinya kepada Allah Tuhannya.
***
Doa mengalir ke saya, dari ibu saya, agar pergi haji bisa bolak balik dan keluar negeri semudah keluar rumah.
Barangkali dulu yang terlintas oleh ibu saya adalah seperti Ayah Mamad itu. Bolak balik saban tahun. Ga kebayang bakal seperti saya, jauh melampaui Ayah Mamad sendiri. Bisa sebulan 2-3x bulak balik.
Dari sini, yakinlah saudaraku semua, bahwa kalau saudara mau berdoa dan yakin, maka Allah yang akan membuatnya menjadi mungkin. Coba saja.
Selain doa tentang bulak balik ke Mekkah seperti ke pasar, doa lainnya ibu saya adalah saya bisa pergi keluar negeri seperti keluar pintu rumah. Ini pun dikabulkan Allah. Sayat ini saya kalau mau pergi keluar negeri, tinggal menyebar imel: “Saya ada waktu nih... Siapa yang mau nerima kedatangan saya...”. Begitu saya kirim ke kawan-kawan di KBRI-KBRI maupun di perhimpunan muslim-muslim di luar negeri. Wuah, spontan akan ada yang menyambut itu imel dan merancang perjalanan ke sana. Subhaanallaah. Ini berkah doa ibu, bibi, paman, para guru dan keluarga.
Bener-bener. Sesuatu yang dulu nampaknya tidak mungkin, dibuat mungkin oleh Allah. Alhamdulillah.
***
Keajaiban ini tentu saja bukan milik saya semata. Dan bukan hanya milik ibu saya saja. Melainkan milik semua yang percaya bahwa Allah akan mengabulkan doa.
Sungguh, doa itu seperti anak panah yang dilepaskan Arjuna atau Kresna. Bahkan lebih mulia daripada itu. Ungkapan saya hanya untuk menunjukkan, bahwa doa, sekali ia sudah dilepaskan dari lisan dan hati yang yakin, maka ia pasti akan dikabulkan Allah. Tinggal soal waktu saja. Ini yang saya sebut sebagai perjalanan doa. Ia bukan saja perlu keyakinan. Ia juga perlu kesabaran, perlu baik sangka, dan memerlukan pupuk lagi bila mau kabul lebih cepat.
Di Pergi Haji Bukan Mimpi edisi-edisi selanjutnya, kita masih akan bercanda tentang kekuatan doa, keyakinan, kesabaran, dan amal saleh sebagai pupuknya. Ada di antaranya cerita seorang merbot yang berangkat dengan kekuatan doa saja selama 2 tahun berturut-turut. Cerita seorang tukang becak dan tukang nasi yang bisa pergi haji plus berdua, yang menggambarkan bahwa benar-benar pergi haji bukan saja milik mereka yang berduit, berpangkat, dan berkedudukan. Pergi haji dan umrah milik siapa saja yang dikehendaki Allah untuk menjadi tamu-Nya.
***
Berikut tips buat saudara semua:
# Betul-betul banyak berdoa dan rajinkan berdoa. “Berdoa itu bermanfaat bagi sesuatu yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi. Maka hendaklah kalian banyak berdoa...” (al Hadits). Bahkan sabda Rasul, tidak ada satu doa pun yang dipanjatkan kecuali ia menjadi simpanan kebaikan bagi yang berdoa. Seperti ibu saya. Beliau tidak mengerti bahwa doanya itu bekerja! Beliau berdoa betul-betul berdoa. Rajin. Ga mengerti bagaimana Allah kelak akan mewujudkannya. Pokoknya berdoa. Bukan setahun dua tahun. Tapi sampai saya lulus SD, ya sampai ga dimandikan lagi, he he he. Selama dimandikan sama ibu (sepanjang SD), ibu berdoa begitu terus. Kayak kaset yang diputar terus menerus. Ternyata nyampe tuh doa.
# Doakan anak keturunan. Sebab doanya orang tua kepada anaknya itu seperti doa seorang nabi buat ummatnya. Masya Allah. Tengoklah diri kita. Seberapa rajin kita mendoakan anak-anak kita? Bahkan ketika kita mendoakan anak-anak kita, kita pun seringnya berdoa secara borongan. Tidak mendoakan satu-satu, menyebutnya sesuai keadaannya. Coba jajal sebut satu-satu. Saya pernah bicara-bicara dengan Ibu Hajjah Misi, walimurid santri Daarul Qur’an. Ia serius menceritakan keajaiban doa dari beliau untuk anaknya: Bill dan Bella. Satu saat, Bill dan Bella gerah melihat sang ibu begitu khawatir terhadap mereka. Bill sang kakak lalu bicara pelan kepada mamahnya, “Mah, percaya Allah kan? Cobalah titip saya dan Bella kepada Allah. Tugas saya belajar di sini yang benar. Insya Allah. Mamah tenang saja di rumah mendoakan kami. Bangun malam buat kami. Kami dhuha, mamah dhuha. Kami puasa, mamah puasa. Kami belajar, mamah berdoa. Insya Allah dah semua akan baik-baik saja”. Bu Hajjah Misi bercerita kepada saya, “Alhamdulillah Ustadz. Di sekolah sebelumnya, Bill itu selalu juara satu. Tapi dari belakang, he he he. Kemaren waktu bagi raport alhamdulillah rangking 3!”.
# Rajin-rajin doakan orang tua. Orang tua pastilah tidak meminta apa-apa dari anaknya. Bahkan tidak pula meminta doa dari anaknya. Kitanya saja yang kudu banyak ingatnya sama orang tua, termasuk mendoakannya. Sampai sini, saya banyak-banyak beristighfar kepada Allah dari dosa lalai mendoakan orang tua.
# Banyakin husnudzdzan sama Allah. Jangan gampang putus asa. Perjalanan doa itu seperti perjalanan takdir. Berlapis. Jalani dengan sabar kehidupan setelah doa.
# Pupuk doa dengan amal-amal saleh. Apa saja. Yang bisa sedekah, sedekah. Yang bisa dengan shalat-shalat sunnah, ya shalat sunnah. Yang bisa dengan baca al Qur’an, ya baca al Qur’an. Istiqamahin, dan dawamin (lakukan terus menerus).
Dah, itu dulu tipsnya. Jalanin dah.
Mohon doa dari semua sahabat di tanah air dan manca negara yang mengikuti tulisan ini. Mudah-mudahan umrah kami dan umrahnya semua orang yang umrah dari seluruh dunia, diterima oleh Allah. Perjalanan kami diringankan, dimudahkan, dan diridha. Amin. Sesiapa yang mendoakan, maka doa itu kembali lagi kepada yang mendoakan.
Kami pun mendoakan semua yang belom berangkat, mudah-mudahan bisa berangkat. Berangkat bukan sekedar berangkat. Tapi berangkat bersama orang-orang yang dikasihinya, bersama disayanginya. Bahkan bukan sekedar berangkat, tapi juga memberangkatkan orang lain. Dan bukan sekedar berangkat, melainkan jadi ibadah. Dan bukan pula sekedar ibadah, melainkan menjadi ibadah yang diterima. Amin, amin, amin.
Ustad Yusuf Mansyur.

1 komentar:

  1. Semoga niat saya untuk pergi umrah dan haji bersama seluruh keluarga menjadi kenyataan seperti yang dialami ustadz Yusuf Mansur. Amin ya Rabbal Alamin.

    BalasHapus